Rahasia Memaksimalkan Potensi “Brain Power” Mahasiswa di Perguruan Tinggi

  • 17 Juli 2017

Tujuan pelatihan “Power Brain Teaching” adalah menggali seluruh potensi otak kanan dan kiri para mahasiswa agar dapat berfungsi maksimal dalam proses pendidikannya di perguruan-tinggi. Jika para mahasiswa mampu menggali potensi otak kanan dan kiri serta meman-faatkan secara maksimal maka mereka akan dapat berhasil dalam menggapai cita-citanya.

Bahkan mungkin kelak dapat mengembangkan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditekuninya selama kuliah. Tidak pula tertutup kemungkinannya menghasilkan puncak karya “adiluhung” yang bermanfaat bagi keluarga masyarakat dan bangsanya.

Pada momentum Dies Natalis Usakti yang ke-50 ini, adalah saat yang tepat untuk mengisi kesempatan emas, mendidik generasi emas untuk menggali seluruh potensi emas-nya, yaitu menggali seluruh potensi otak melalui pendidikan atau "Whole Brain Teaching".

Power Brain Teaching, merupakan teknik mengajar yang memaksimalkan potensi keseluruhan otak atau "whole brain teaching". Dalam proses pendidikannya potensi “otak kiri “ dan “otak kanan” para mahasiswa selama ini tidak berkembang secara seimbang. Pendidikan di perguruan-tinggi selama ini hanya menguras habis potensi otak kiri dan tidak menggali potensi otak kanan mahasiswa. Potensi kedua-belah otak harus difungsikan dengan baik agar hasil pendidikan maksimal. Agaknya metode Power Teaching berupaya menggali berbagai aspek kepribadian mahasiswa sehingga daya kognitif, afektif dan psikomotorik dapat berfungsi secara seimbang selama mereka mengikuti proses pendidikan di kampus. Itulah keunikan metode “Power Brain teaching”.

Pertanyaan yang muncul adalah, apakah metode "whole-brain teaching " pernah diuji-coba di perguruan tinggi?

Pada tahun 2000-an, Chris Biffle memperkenal-kan metode “Power Teaching”-nya di berbagai strata lembaga pendidikan di di AS. Ia mencatat, hasil pendekatan metodenya dapat mengungkap seluruh potensi “power brain” anak didik dibanding metode pembelajaran konvensional. Metoda power teaching lebih menekankan penguasaan kemampuan mahasiswa untuk mengungkapkan kembali konsep, penjelasan, rumus yang telah disampaikan para dosen dalam suasana menyenangkan. Mungkin prosesnya mirip proses pendidikan dalam kegiatan pramuka. Anak-anak dengan gembira mengikuti kegiatan kepanduan di alam terbuka. Mereka, pembimbing dan anggota pramuka bersama-sama menyanyi “Di sini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang” sambil belajar disiplin dan berbagai ketrampilan praktis yang dapat menolong dirinya sendiri serta orang lain yang perlu pertolongan. Hidup mereka tidak hanya mengeluh tetapi bagaimana menyeleng-garakan kehidupan secara bergotong-royong. Itulah inti kehidupan bermasyarakat. Secara tidak sadar mereka dalam waktu yang sama menggunakan otak kanan dan otak kiri secara maksimal dan seimbang.

Langkah-langkah praktis dalam penerapan metode power teaching amat sederhana sehingga para mahasiswa dapat mempratek-kannya dalam hitungan menit. Chris Biffle menawarkan 6 kegiatan interaktif dalam proses pembelajarannya melalui perintah-perintah dan respon-respon sederhana. Melalui perintah dengan satu kata kunci dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang relatif akrab sebagai bahasa gaul para mahasiswa. Metoda pembelajaran ini nyaris dapat dipraktekkan pada semua mata pelajaran. Di dalam ruang kuliah para mahasiswa harus mengungkapkan kata: Class – Yes (1), Micro-lecture (2) Teach – Okay (3) Scoreboard (4) Hands and Eyes (5) Comprehension Check (6).

Para mahasiswa dapat mengungkapkan kata Class – Yes (1), ketika dosen meminta perhatian atau para mahasiswa menghentikan kegiatan individunya ketika dosen berseru, "Claaaass!" dengan nada suara dan intonasi yang diubah dari waktu ke waktu. Semua mahasiswa akan serempak merespon dengan, "Yeeeesss!" dengan nada dan intonasi meniru cara dosen berucap. Kalau dosen menggunakan suara robot, para mahasiswa pun merespon dengan suara robot. Demikian juga kalau dosen mengucapkan suara anak kecil, mereka merespon dengan suara anak kecil. Demikian seterusnya, tergantung kreativitas para dosen dalam proses pembelajarannya.

Dalam Micro-lecture (2) Dosen ketika menyam-paikan konsep baru, memberi penjelasan, melukiskan langkah atau menuliskan rumus. Rangkaian kegiatan hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 30 detik atau setengah menit. Saat itu juga para mahasiswa harus bisa mengulang kembali rumus atau kalimat baru yang disampaikan para dosen tadi. Kegiatan yang hanya berlangsung beberapa detik itu menjadi micro-lecture. Namanya juga " micro-lecture ". Hanya berisi ringkasan materi pelajaran. Dosen menyampaikan Micro-lecture atau ringkasan informasi, penjelasan, konsep, rumus kepada para mahaiswa. Begitu dosen selesai menyampaikan micro-lecture, maka pada detik itu juga para mahasiswa mengulang kembali apa yang diucapkan dosen. Semua hanya berlangsung 30 detik.

Teach – Okay (3). Setelah dosen "mengajar" selama 30 detik, dosen meminta para mahasiswa mengungkapkan kembali pengetahuan yang baru saja diperoleh. Perintah ini disampaikan dengan berkata, "Teach!" dengan nada tinggi menghentak diikuti gerakan menarik seperti, tepuk tangan 2-2 diteruskan dengan menjulurkan lengan kanan menghentak serong kanan ke atas, sementara lengan kiri ditarik ke bawah. Gerakan lain sebagai variasi boleh dilakukan. Ucapan "Teach" dapat diucapkan dengan nada lembut disusul tepuk tangan 2-2 bersama dengan gerakan lengan perlahan ke depan. Para mahasiswa lalu merespon dengan kata, "Okay!" serempak, meniru gerakan dosen. Setelah itu, para mahasiswa yang duduknya berdekatan berpaling saling berhadapan dan mengutarakan kembali apa saja yang disampaikan dosen tadi. Saat menuturkan kembali apa yang dipelajari dari dosen, para mahasiswa harus menggunakan 'gesture' dan bersemangat. Pastikan suaranya para mahasiswa saat bertutur dapat didengar oleh telinganya sendiri.

Scoreboard (4) atau "papan nilai" dimaksudkan untuk memberitahu para mahasiswa apakah responnya memuaskan dosen. Apakah respon mereka dilakukan secara serempak dan bersemangat atau sebaliknya. Hasil respon mahasiswa dinilai pada “scoreboprad” melalui 2 gambar wajah berbentuk lingkaran. Lingkaran gambar tersenyum sebagai tanda serempak, Lingkaran gambar cemberut sebagai tanda tidak serempak. Dua gambar lingkaran wajah itu dipisahkan oleh garis lurus ke bawah. Apabila respons mahasiswa bagus, dosen menuliskan skor satu di bawah lingkaran gambar senyum. Kemudian dosen mengibaskan tangan ke arah kelas kemudian para mahasiswa dengan gembira akan berseru "O yaaaa!" bersamaan tepuk tangan satu kali. Jika respon mahasiswa tidak bagus, dosen memberi skor satu di bawah lingkaran gambar cemberut dan setelah dosen mengibaskan tangan ke arah kelas, para mahasiswa akan merespon, "Ooh," mereka mengungkapkan kesedihan sambil menghapus air-matanya. Mereka seolah menangis karena kecewa.

Hands and eyes (5) Perintah bermakna "tangan dan mata". Dosen akan mengucapkan perintah “tangan “ dan “mata” yang mengharapkan respon para mahasiswa dengan ucapannya sama. Perintah “Tangan” dan “mata” akan dilanjutkan dengan menyatukan jari-jari kedua tangannya lalu meletakkannya di atas pegangan bangku. Pandangan mata para mahasiswa harus lurus ke arah dosen. Aba-aba ini dimaksudkan agar perhatian para mahasiswa tertuju pada materi pelajaran yang akan disampaikan para dosen. Cara ini cukup sulit sehingga memerlukan perhatian ekstra. Metode “Tangan dan Mata” hanya digunakan ketika dosen benar-benar menginginkan 'quality attention'. Kualitas perhatian para mahasiswa tidak selalu menjadi bagian dari proses pembelajaran ini. Di tahap awal perkenalan power brain teaching, metode "Hands and eyes" sebaiknya dilewatkan saja.

Comprehension Check -- Cek Pemahaman (6) Saat para mahasiswa mengungkapkan kembali bahan ajar yang baru saja dipelajari, dosen perlu mengecek pemahaman siswa dengan cara berjalan keliling kelas mendengarkan apa yang diungkapkan para mahasiswa. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui seberapa efektif mahasiswa belajar, tetapi juga untuk memastikan apakah para mahasiswa tidak sekedar tampak seolah mengungkapkan pemahamannya seperti yang seharusnya, padahal kenyataannya hanya sekedar tampak buka mulut untuk mengelabuhi dosen. Begitu ringkasan metode “Power Brain teaching” yang diperkenalkan Chris Biffle dalam proses belajar-mengajar di berbagai strata lembaga pendidikan, khususnya pada perguruan tinggi di negaranya. Menurut penelitiannya pencetus gagasan ini hasilnya menggembirakan. Sebagian besar mahasiswa nampaknya sangat menikmati dan menyukai metode barunya. Bagaimana di Indonesia?

Kita dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan mencari pada pakar pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara yang sudah sejak awal memperkenalkan lingkungan belajar seperti taman-taman untuk menciptakan suasana menyenangkan dan menyegarkan. Agaknya metode yang dianggap baru pada tahun 2000-an ini, di sini ternyata sudah bukan ide yang aneh dan metode yang unik. Lalu bagaimana? Mungkin hanya istilah-istilah ilmiahnya yang baru, isinya tidak. Itu hanya soal ide-ide yang melampaui batas-batas ruang dan waktu dalam proses pembelajaran dan pengajaran di sebuah negara. Di perguruan tinggi pun demikian juga, para pemimpin kita pernah menemukan ungkapan lama “ojo gampang gumunan”, jangan mudah terkagum-kagum ide-ide dari luar, teliti dulu! Soal Ruang dan Waktu

Agaknya soal ruang dan waktu pelaksanaan proses belajar dan mengajar agar metode pembelajaran “Power Brain” menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan pendidikan di Indonesia. Perubahan waktu belajar dari enam hari menjadi lima hari sekolah yaitu hari Senin-Jum’at” mulai dilaksanakan. Kebijakan itu dilaksanakan tanpa mengurangi materi pelajaran dan jam belajar seperti yang tercantum dalam kurikulum. Para dosen dan guru serta anak didiknya secara pelahan mulai meninggalkan metoda pendidikan konvensional.

Selanjutnya pada hari Sabtu dan Minggu para dosen dan guru serta anak didiknya dapat memanfaatkan waktunya untuk istirahat di rumah dengan keluarga. Dalam waktu istirahat itulah mereka dapat mengembalikan dan memulihkan kebugaran rohani dan jasmaninya. Para dosen dan guru serta anak didiknya dapat berkumpul untuk rekreasi. Kedua belah pihak ketika bertemu kembali, pada haris Senin sudah kelihatan segar dan bugar Selanjutnya tercipta Susana nyaman dan menyenangkan untuk melanjutkan kembali kegiatannya masing-masing. Dengan cara begitu kejenuhan otak setelah diforsir selama lima-hari dapat dikurangi.

Namun di sisi lain, tentu kebijakan tersebut ada efek negatifnya. Keberhasilan dalam proses pendidikan tidak hanya terletak dalam lembaga pendidikan formal tetapi juga ada pada keluarga dan masyarakat. Meski sebuah kebijakan pendidikan nasional sudah ditentukan berdasarkan analisis faktor kelemahan, kekuatan, peluang dan tantangan atau analisis SWOT, masih perlu pertimbangan lain. Mungkin lebih bijak jika dalam prakteknya mempertimbangkan local-genius budaya daerah. Tidak setiap kebijakan pendidikan nasional serta-merta cocok di setiap daerah.

Para peserta didik, termasuk mahasiswa di berbagai-kota besar cepat mengalami kejenuhan akibat lamanya pendidikan di kampus dan macetnya jalanan. Untuk menghindari kema-cetan jalanan mereka menghabiskan waktunya di kampus dengan lebih banyak bermain dengan gadgetnya, main game serta nonton tv. Karena kelamaan waktu nongkrong di kampus, akhirnya mereka kekurangan waktu untuk bertemu dengan orang tuanya. Nyaris semua strata pendidikan mengalami hal seperti itu.

Mereka terlalu santai menggunakan waktu luang bukan untuk belajar. Mereka lebih banyak menggunakan waktu untuk bermain-main dengan gadgetnya. Saking asyiknya mereka bermain dengan gadgetnya maka waktu diajak berbicara dan bertemu dengan orang tua wajahnya dan pandangan matanya tetap terfokus pada permainannya. Bukan pada pada lawan bicaranya seperti lazimnya dalam dialog-dialog antara orangtua dan anaknya. Jika waktu liburnya ditambah, mereka akan semakin senang. Dalam waktu libur dua hari mereka akan lebih asyik dengan gadget atau teknologi baru yang lebih menarik. Apakah hasil kebijakan pendidikan selama lima hari efektif? Masih menjadi tanda besar.

Yang jelas proses pendidikan akan lebih efektif jika para guru dan dosen dapat menggali dan memanfaat potensi “power brain” anak didiknya untuk hal-hal yang lebih positif. Efek gadget boleh dikatakan negative jika mereka menggunakan waktu luangnya dengan begadang semalam suntuk. Tubuhnya tidak menikmati cukup istirahat sehingga lama kelamaan jasmani dan rohaninya lemah. Mereka diperbudak oleh dayatarik alat permainan yang memakai teknologi baru. “Ojo gampang gumunan” . Jangan mudah terkagum-kagum dengan sesuatu yang baru! Agaknya yang diperlukan anak-anak muda adalah pelajaran bagaimana mengatur manajemen penggunaan waktu luang. Hal itu diperlukan agar pelaksanaan proses belajar-mengajar dapat berlangsung efisien dan efektif. Soal isi gadget adalah soal penetrasi negatip budaya luar yang menyelusup melalui teknologi yang tidak bisa lagi dibendung. Penetrasi negatip budaya luar itu kini berhasil menyusup masuk ke dapur ibu-ibu muda dan para pegawai di berbagai kantor pada saat jam kerja di Indonesia.

Waktu lima hari belajar di kampus mulai dari hari Senin hingga Jum’at, seharusnya dilaksanakan dalam atmosfir menyenangkan dan didukung sarana fisik yang memadai. Proses pembelajaran dan pengajaran di kampus diupayakan dapat memaksimalkan potensi “Brain Power” mahasiswa. Tujuannya agar semua potensi otak mereka dapat berfungsi dengan baik . Banyak faktor yang mempengaruhi pelaksanaan metode ini. Dalam proses pembelajaran dan pengajaran yang menyenangkan tidak cukup hanya menciptakan suasana menyenangkan tetapi ada berbagai factor penunjangnya. Sebab kita tidak dapat menciptakan suasana menyenangkan dalam lingkungannya yang tidak sejahtera.

Kejenuhan belajar selain karena lamanya hari sekolah, juga disebabkan oleh proses belajar dan mengajar yang tidak menyenangkan, waktu jeda dalam pembelajaran yang terlalu lama dan tugas-tugas pekerjaan rumah yang menumpuk serta kemampuan daya serap mahasiswa yang rendah. Semua factor penunjang harus diteliti dan diperhitungkan. Lingkungan kampus yang kurang kondusif juga dapat menyebabkan kejenuhan para mahasiswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar. Sejak dulu, Ki Hajar Dewantara sudah memperkenalkan lingkungan belajar yang nyaman. Pendididikan tidak melulu dilaksanakan dalam kelas tetapi dapat dilaksakan di dalam taman-taman yang udaranya segar sehingga menciptakan suasana menyenangkan. Bahkan Bernard Show pernah mengatakan, “ Jangan sampai terjadi lembaga pendidikan suasananya seperti sebuah penjara.”

Penjara kampus itu dapat ditepiskan dan prestasi akademik dapat ditingkatkan jika disela-sela waktu tersebut kita dapat meningkatkan kualitas rileksasi pada saat jam istirahat dengan benar. Pada saat ini para remaja usia sekolah banyak menunda atau tidak menggunakan jam istirahat dengan benar. Mereka terlalu banyak melakukan kegiatan di luar jam belajar, seperti mengerjakan PR, menonton TV, bermain video game, dan gadget serta minum kopi serta zat peransang lainnya (David A. Sousa, 2012) .

Rileksasi yang dilakukan sehabis melakukan kegiatan dapat menenangkan pikiran. Itu penting dan harus dilakukan. Dimasa lalu kegiatan rileksasi tersebut dikenal dengan sebutan; berdoa, meditasi, yoga … (Jean Marie Stine, 2002). Sholat dan kegiatan ibadah lainnya ternyata mengandung unsur relaksasi yang amat dalam karena kegiatannya dapat menguatkan memori mahasiswa. Jeda waktu untuk menikmati keheningan ternyata dapat distruktur. Para mahasiswa dapat diarahkan untuk memilih pembelajaran alternative, seperti bernyanyi, bergerak, dan tarik nafas” (Eric Jensen, 2011). Tetapi jangan lupa, setelah semua kegiatan di kampus selesai, segera pulang ke rumah dan bertemu orangtua.

Di rumah, orang-tua harus menyisihkan waktu untuk berinteraksi dengan putra-putrinya. Interaksi antara orangtua dan anak amat penting karena sangat berpengaruh bagi tumbuh-kembang anak, baik secara fisik maupun kepribadiannya. Namun yang terpenting bukan lamanya (quantity time) seorang anak berkumpul dengan orang tuanya, melainkan kualitas waktu (quality time) dalam berinteraksi. Meskipun hanya sempat bertemu dengan anak-anak pada hari Minggu, saat itu akan jauh lebih bermakna jika digunakan secara efektif dan efisien. Agaknya negara Finlandia dapat dijadikan contoh. Pendidikan di negara itu boleh dikatakan yang terbaik dunia. Anak-anak mereka ketika di rumah, tidak lagi disibukkan oleh tugas Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah. Guru tidak boleh memberikan PR karena dikhawatirkan mengganggu waktu yang interaksi orang tua dengan anak-anaknya. Para anak didik harus menyelesaikan proses belajar sebelum mereka pulang sekolah.

Ada contoh lain yang lebih menarik, banyak anak fakir miskin yang tinggal bersama kedua orang tuanya.Dari hari Senin hingga Sabtu mereka seringkali ditinggal orang tua mereka untuk bekerja. Mereka pergi kerja ketika anaknya belum bangun tidur dan pulang kerja ketika anak-anaknya tidur. Kesibukan orang tuanya mencari nafkah membuat mereka hanya dapat berkomunikasi pada hari Minggu. Sungguhpun demikian mereka sering berhasil dalam pendidikan anak-anaknya. Jika lima hari sekolah diterapkan, para orang tua, pihak sekolah dan pemerintah lebih disibukkan oleh persoalan non-akademik. Sering kali soal ini dianggap lebih penting. Persoalan ini sering merupakan sumber keributan dibanding urusan pendidikan dan pembelajaran. Mereka sibuk mengurus makan siang para siswa. Bahkan ada diantara mereka mempersoalkan keamanan anaknya di rumah karena pada hari Sabtu diliburkan. Selama ini anak mereka aman belajar di sekolahnya. Dalam praktek kehidupan sehari-hari memang sulit menjaga kesimbangan antara persoalan non-akademik dan akademik anak-anak. Sama sulitnya ketika kita harus menjaga keseimbangan rohani dan jasmani dalam kehidupan keseharian di tengah kota megapolitan. Godaan antara memenuhi 10 kebutuhan jasmani seperti yang diungkapkan Maslov dan keharusan memenuhi kebutuhan rohani seperti ajaran para nabi dan tokoh suci lainnya. Hal itu sungguh patut direnungkan kembali. Itulah sebenarnya yang mempengaruhi kemudahan membukanya pintu potensi “Brain Power” mahasiswa atau mereka kita biarkan terjebak dalam kegelapan ? Prasetya Utama (Bogor, 7 Agustus 2015).

  • Sumber:
  • Penulis: CDC USAKTI